loader image
Wait a moment...

Orang Tua Sibuk Kerja, Anak Sibuk Mencari Kasih Sayang

Madanimentalhealthcare.com – Jika ditanya apa yang kamu sangat inginkan saat masih kecil? Mungkin jawaban kamu adalah mainan, alat tulis, dan sebagainya. Namun tidak pada anak yang berinisial DM yang lebih menginginkan kehadiran orang tuanya. 

Tanpa disadari, hal ini mempengaruhi perkembangan dan pembentukan karakter DM sebagai orang dewasa. Kini, DM diagnosa oleh psikiater dengan gangguan kecemasan, stres yang diakibatkan faktor yang berkaitan dengan masalah orientasi seksual. Berikut perjalanan kisah DM yang mencerminkan bagaimana ketidakhadiran orang tua bisa berdampak besar bagi anak ketika sudah dewasa. 

Masa Kecil DM 

DM merupakan seorang anak laki-laki yang diharapkan oleh orang tuanya sebagai penerus perusahaan ayahnya. Namun, saat ini ibu dan ayahnya sedang sibuk merintis karir perusahaan. 

Sejak kecil DM memang sudah terpenuhi kebutuhan secara fisiknya lebih dari cukup. Apalagi, orang tuanya merupakan seorang pengusaha. Sehingga, sehari-hari DM diurus oleh asisten rumah tangga (ART). 

Saat masih kecil DM juga tidak terlalu bergaul dengan teman sebayanya. Hal ini karena orang tuanya yang terlalu overprotektif. 

Dibully oleh Teman Sekolah

Menginjak sekolah dasar di salah satu sekolah yang bisa dibilang elit, DM memperlihatkan prestasinya dengan selalu mendapatkan rangking terbaik. Selain memiliki perilaku yang baik, DM juga mendapatkan perlakuan spesial  dari guru-gurunya karena sang ayah menjadi donatur di sekolah tersebut.

Namun, suatu hari DM mengalami bully dari teman-temannya. Mereka mengatakan bahwa DM seorang anak kampung. Sehingga perlakukan tersebut memunculkan perasaan tidak nyaman dan inferior pada DM. Perlakuan guru yang spesial tersebut tidak membuat DM tetap merasa nyaman di sekolah. 

Mengalami Pelecehan Seksual

Saat masih menempuh di kelas 6 SD, tak disangka DM mendapat perlakuan pelecehan seksual. DM tentunya merasa sedih dan terpukul. Pada akhirnya, DM menjadi seseorang yang pendiam dan tidak memiliki semangat lagi untuk berprestasi di sekolahnya. 

Orang Tua Tidak Bisa Jadi Tempat Cerita

Kasih sayang orang tua bisa dalam berbagai bentuk. Mungkin yang diharapkan DM saat itu adalah kehadiran orang tua yang bisa dijadikan tempat cerita. Sayangnya, karena terlalu sibuk bekerja, DM tidak sempat bercerita mengenai pelecehan seksual yang terjadi pada dirinya kepada orang tuanya. 

Mengagumi Pria Lain

Semenjak peristiwa tersebut, DM lebih senang memilih untuk tinggal di rumah dan tidak melakukan segala bentuk aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan sosial. Puncaknya, ketika DM masuk ke perguruan tinggi. 

Namun pada saat itu, terdapat seorang teman laki-laki yang lebih pintar daripada dia. Sehingga lambat laun, DM merasa kagum dengannya. Akhirnya, DM memutuskan untuk mengungkapkan perasaan tersebut.

Akan tetapi, teman laki-lakinya justru merasa DM melakukan sesuatu di atas batas normal atau disebut dengan gangguan homoseksual. Setelah mendengar hal itu, DM menjadi stres dan depresi hingga tidak berani untuk datang ke kampus. Bahkan, timbulnya rasa ingin bunuh diri. 

Stres Semakin Parah

Pada titik tertentu, pihak kampus melihat adanya perubahan pada DM yang perlu penanganan secara khusus. Apalagi, pihak kampus memiliki hubungan yang sangat dekat dengan orang tua DM. 

Padahal, sebenarnya DM tidak merasa puas memiliki nilai yang dianggap baik. DM merasa apapun yang didapatkannya saat ini karena bantuan relasi dari orang tuanya. 

Semakin lama, depresi yang dialami oleh DM semakin parah. Akhirnya, DM mempercayakan Madani Mental Health Care untuk melakukan konsultasi bersama psikiater. 

Apa Kata Madani?

Pada saat itu, DM langsung ditangani oleh Prof. Dadang. Selama konsultasi berlangsung, DM akhirnya menyebutkan bahwa dia mengalami stres dan depresi akibat ketidaknyamanan secara seksual meskipun belum mengarah kepada homoseksual secara perilaku atau tindakan. Hal ini dipicu pun karena trauma masa lalu. 

Langkah yang Dilakukan Madani

Selama proses pemulihan, DM tidak menyampaikan apapun kepada keluarganya. “Keluarga hanya melihat ini hanya masalah dn tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas pelajaran di kampus,” ujar salah satu konselor Madani yang senantiasa menemani proses pemulihan DM. 

Ketika DM menceritakan mengenai masa lalunya, maka tim Madani yang terdiri dari dari konselor, psikolog, dan psikiater menyampaikan bahwa yang terpenting baginya yaitu bagaimana DM mampu menyikapi atau berdamai dengan masa lalunya. 

“Ya salah satunya adalah dengan meningkatkan kekuatan mentalnya dengan pendekatan di aspek spiritual dan mulai melakukan kegiatan-kegiatan beraktivitas sosial, baik di kampus, di lingkungan keluarga, tidak lagi terpaku pada masalah masa lalu,” jelas konselor Madani. 

Selain itu, DM juga dianjurkan untuk mengkonsumsi psikofarmaka dalam dosis yang tepat dan dibawah penanganan psikolog serta konselor. Akhirnya, salah satu tingkat stres yang dialami DM semakin hilang beserta ingatan masa lalunya. 

Bagaimana Kondisi DM Saat Ini?

Saat ini, DM sudah mampu beraktivitas kembali di kampus. Bahkan, nilai-nilai DM semakin baik. Kepercayaan DM pun semakin meningkat. “Dia yang tadinya tidak mau bersosialisasi baik di lingkungan rumah atau di kampus tapi kini sudah mau membangun aktivitas sosial,” ucap konselor Madani. 

Sebelumnya, DM justru memiliki ketidaknyaman dalam aspek spiritual. Dia berpikir bahwa Tuhan tidak adil. Selama ini, DM menjalankan ibadah dalam keterpaksaan. “Namun, di akhir sesi terapinya di Madani. DM sudah memiliki keimanan yang baik,” tambah konselor Madani. 

Kisah ini menyadarkan kita bahwa ternyata kehadiran orang tua begitu pentingnya bagi anak, termasuk tempat bercerita, belajar memahami peran dan keadaan. Pemenuhan aspek mental sama pentingnya dengan aspek fisik. Jangan sampai orang tua sibuk mencari kerja, anak sibuk mencari kasih sayang.

Bagikan tulisan
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
× How can I help you?