Madanionline.org – “Saya itu sangat jauh dengan ayah,” ujar seorang anak asal Sumatera.
Kisah ini berawal dari seorang anak yang sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi di wilayah Sumatera. Di tengah perjalanannya menempuh pendidikan, dia mengalami ketakutan atau kecurigaan secara berlebihan jika bertemu dengan orang baru serta mengalami halusinasi tertutama pada pendengaran.
Akibatnya, selama satu tahun belakangan ini, dia tidak pergi kuliah dan lebih senang berdiam diri di kamar untuk menjauhi dunia luar.
Keluarga pun merasa khawatir sehingga mempercayakan Madani Mental Health Care untuk mengatasi masalah mental yang sedang dialami sang anak.
Orang Terdekat Menjadi Pemicunya
Langkah pertama yang dilakukan oleh Madani yaitu membangun kepercayaan dengan pasien agar pasien tidak segan menceritakan apa yang dia pikirkan dan rasakan.
Hal ini mempermudah mengetahui akar pemicu dari masalah tersebut sehingga dapat menentukan langkah yang tepat dan efektif dalam pengobatan.
Setelah mendapatkan kepercayaan tersebut, pasien mulai terbuka dan memberitahu bahwa ayahnya begitu galak dan keras terhadapnya. Bahkan ketika dirinya hanya melakukan kesalahan kecil.
“Misalnya pasien tidak sengaja memecahkan gelas, maka sang ayah langsung memukulnya,” kata Yanto yang merupakan salah satu konselor di Madani.
Tanpa disadari, peran orang tua sangat begitu penting dalam mempengaruhi kesehatan mental seorang anak. Perilaku sang ayah membuat dirinya trauma dan menumpuk dendam secara mendalam. Sehingga perilaku tersebut yang menjadi pemicu utama sang anak mengalami skizofrenia paranoid.
Sang Ayah Tidak Beri Kabar Saat Anak Sedang Ikthtiar
Madani juga mengajak keluarga untuk bekerja sama dalam mengobati pasien bersama. Namun sayangnya, sang ayah yang merupakan pemicu utama sakitnya sang anak, tidak pernah mau diajak berkomunikasi membahas kesehatan pasien dengan pihak Madani.
“Satu dua bulan berjalan cuman ada ibu yang ada dan beberapa kali berkunjung untuk mengetahui kondisi anak secara langsung sekaligus melepas rindu,” tutur Yanto yang merupakan salah satu konselor di Madani.
“Dua bulan lebih berjalan, ayahnya tidak datang ke Madani bahkan tidak menelpon dan tidak mencari tahu kabar anaknya,” lanjut Yanto dengan suara yang miris.
Seiring berjalannya waktu, sang anak tetap melakukan terapi sosial secara rutin. Misalnya dengan kegiatan olahraga futsal atau renang sehingga membangun kepercayaan diri sang anak untuk bertemu orang baru.
Keadaan anak berangsur pulih, namun belum bisa pulih secara tuntas karena sang ayah yang masih belum mau diajak bekerjasama.
“Akhirnya kami telepon dan mengatakan mohon maaf anak bapak kami paksa pulangkan karena pengobatan disini melibatkan orang tua demi pemulihan pasien,” ujar Yanto dengan nadanya yang penuh kesabaran.
Dengan usaha Yanto yang begitu gigih demi kesembuhan pasien, akhirnya keluarga beserta ayah pasien mau datang ke Madani.
“Tolong Ucapkan Kata-kata Maaf”
Menjelang pertemuan dengan sang ayah, dia menunjukkan beberapa perubahan sikap. Mulai dari gelisah, mondar-mandir, bahkan badannya gemetar sambil mengucapkan “Saya takut dengan ayah. Saya takut dengan ayah”.
Tak tinggal diam, Yanto menenangkan sang anak sesuai dengan anjuran psikiater. Namun, perubahan sikap anak berlanjut ketika dirinya menolak keluar dari taksi dan bertemu dengan sang ayah.
Sebagai konselor, Yanto terlebih dahulu mendatangi sang ayah dan meminta tolong menjemput sang anak dari taksi. Sebelumnya, Yanto memberikan beberapa saran kepada sang ayah.
“Tolong ucapkan kata-kata maaf,” saran Yanto yang begitu sederhana.
Momen Mengejutkan
Tak disangka, ketika sang ayah sampai di taksi untuk menjemput, sang anak langsung turun dan sujud di kaki sang ayah sambil menangis. Ayahnya pun tak tinggal diam. Dirinya langsung membangunkan sang anak dan langsung memeluknya.
“Mohon maafkan ayah,” kata sang ayah yang diulang terus-menerus sambil berderai air mata.
Setelah melakukan sesi konseling bersama Prof. Dadang sebagai psikiater, sang ayah meminta waktunya kembali dengan anaknya untuk menumpahkan rasa bersalah dan keriduannya sambil terus meminta maaf.
“Suasana yang luar biasa yang saya saksikan pada hari itu,” ucap Yanto yang menyaksikan kejadian haru tersebut secara langsung.
Kesembuhan Berkembang Pesat
Ternyata waktu hari ini terasa tak cukup, sang ayah meminta cuti pengobatan sang anak karena ingin menghabiskan waktu bersama lebih lama lagi.
Sebelum mengizinkan, Yanto memberikan saran kepada sang ayah “Ucapkan bapak sayang kamu, mohon maaf kekhilafan bapak yang lalu”. Hal ini bertujuan untuk membangun kesadaran sang anak bahwa ayahnya sayang dan perhatian kepadanya.
Setelah itu, sang anak mengalami perkembangan yang begitu pesat. Sehingga pada akhirnya sang anak dinyatakan sembuh dan melanjutkan kuliahnya seperti semula. Bahkan saat cerita ini ditulis, sang anak sudah lulus dari perkuliahannya.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kebiasaan yang sering orang tua lakukan bisa berdampak besar bagi kesehatan mental anak. Begitu pula dengan hal kecil seperti permintaan maaf yang ternyata mampu meluluhkan kemarahan dan dendam yang telah disimpan oleh anak bertahun-tahun.
“Bagaimanapun, dalam kehidupan selalu ada tempat untuk sebuah maaf, tak peduli seberapa besar kesalahan yang terjadi”
– Leo Tolstoy


